Anak Bawang
Meski sudah lewat tiga hari, rasa lelahnya masih sedikit terasa. Pertandingan melawan Tim Mahardhika Putra siang itu lumayan menguras energi. Kami dipaksa bermain sampai set terakhir, setelah pada set pembuka kami kalah 25-20. Beruntung, kami bisa meraih angka pada set kedua dan keempat. Itu artinya, kedudukan kini imbang, 2-2. Pada set penentu, Tim Mahardhika Putra menurunkan pemain dengan kekuatan penuh. Kami pun berusaha memaksimalkan kemampuan yang ada, untuk memberi perlawanan yang berarti. Berkat kerjasama tim, akhirnya kami terlebih dahulu menyentuh angka 25, dua poin di atas tim lawan.
Podium teratas berhasil kami duduki. Menjadi pemenang baru dan melengserkan sang juara bertahan. Meski piala bergilir dan tropi berhasil kami bawa pulang, ada sedikit perasaan kecewa dalam hati saya. Saya hanya dijadikan libero pada pertandingan final itu. Kemampuan bermain tiap anggota tim rata-rata hampir sama. Sedang saya diuntungkan dengan postur yang lebih tinggi beberapa centimeter dari tiga kompatriot yang turun pada kompetisi antarfakultas itu.
Abnormalitas
Budhe, adalah satu dari sekian banyak relawan pengajar. Sejak enam tahun yang lalu, SD swasta itu telah meluluskan puluhan muridnya. Hari itu, budhe mengajak saya masuk ke kelas enam. Saya disuruh duduk di bangku kosong pojok kanan (atas?). Siswa yang berjumlah sebelas hadir semua. Kebetulan, mata pelajaran saat itu adalah pengembangan diri. Mereka yang hadir diberi tugas untuk menulis tentang cita-cita yang ingin mereka raih.
Kekuatan Itu Ada di Pagi Hari**
Pagi yang menawan. Dingin, tapi menyejukkan. Semburat gradasi jingga membuat pola lukisan menakjubkan di ujung langit. Menggantikan warna kelam yang menyembunyikan keceriaan anak kecil. Dua partikel hidrogen merangkul satu partikel utama yang dihirup manusia. Bersenyawa, menjadi tetes embun yang melentikkan ujung-ujung daun bunga bakung.
Pagi itu begitu dingin. Nyaris menggumpalkan berliter-liter minyak kelapa yang disimpan nenek di dalam cendawan kaca. Tapi, tak sekalipun hawa dingin itu membekukan langkah orang-orang untuk merubah nasib. Anak belia yang bersegera berangkat ke sekolah. Lelaki-lelaki yang tak beralas kaki, berjalan menuju sawah dan ladang memenuhi panggilan jiwa. Para guru, dengan ilmu yang mereka miliki, siap memahat pikiran dan mengukir masa depan anak didiknya.
Mbah Suneri Jualan Lagi
Ia adalah Mbah Suneri. Perempuan usia hampir delapanpuluhan itu sudah siap menyambut hari. Jam setengah empat pagi. Dengan pakaiannya yang berlapis-lapis, ia berjalan kaki menuju pasar. Melintasi kampung-kampung, yang sebagian besar warganya masih terlelap dalam kehangatan selimut dan tidurnya yang panjang atas pelampiasan kelelahan kemarin. Kecuali orang-orang yang sudah terjaga untuk menyendiri bersama Tuhannya.






Recent Comments