Explore. Dream. Discover.

Anak Bawang

Anak Bawang


Meski sudah lewat tiga hari, rasa lelahnya masih sedikit terasa. Pertandingan melawan Tim Mahardhika Putra siang itu lumayan menguras energi. Kami dipaksa bermain sampai set terakhir, setelah pada set pembuka kami kalah 25-20. Beruntung, kami bisa meraih angka pada set kedua dan keempat. Itu artinya, kedudukan kini imbang, 2-2. Pada set penentu, Tim Mahardhika Putra menurunkan pemain dengan kekuatan penuh. Kami pun berusaha memaksimalkan kemampuan yang ada, untuk memberi perlawanan yang berarti. Berkat kerjasama tim, akhirnya kami terlebih dahulu menyentuh angka 25, dua poin di atas tim lawan.

Podium teratas berhasil kami duduki. Menjadi pemenang baru dan melengserkan sang juara bertahan. Meski piala bergilir dan tropi berhasil kami bawa pulang, ada sedikit perasaan kecewa dalam hati saya. Saya hanya dijadikan libero pada pertandingan final itu. Kemampuan bermain tiap anggota tim rata-rata hampir sama. Sedang saya diuntungkan dengan postur yang lebih tinggi beberapa centimeter dari tiga kompatriot yang turun pada kompetisi antarfakultas itu.

Dengan keuntungan itu, saya tentu lebih potensial menjadi spiker atau melakukan  jump service, lebih banyak dari teman-teman yang lain. Atau paling tidak tim kami tak terlalu banyak kecolongan angka dengan blocking rapat yang mampu dilakukan pemain jangkung. Dan menjadi seorang libero, berarti tak bisa melakukan teknik-teknik dasar dalam bola voli. Tak bisa melakukan smash, servis, atau blok.

Posisi libero itu seperti halnya menjadi anak bawang dalam sebuah permainan. Keberadaannya seolah-olah hanya dijadikan pelengkap. Kalah atau menang, usaha anak bawang tak terlalu diperhitungkan. Apalagi kalau diingat-ingat, sejak penyisihan sampai perempat final, posisi libero –yang kostumnya bahkan paling berbeda dari kelima anggota tim– dipegang pemain lain.

Saya buru-buru menghapus pikiran negatif itu. Ini akhir pekan. Dan saya tak ingin melewatkan ritual kunjungan terpola ini berjalan dengan sedikit ganjalan. Eman-eman. Hampir tiap Sabtu saya memang rutin ‘persami’ di rumah Gigi, kawan seangkatan. Minus api unggun , tapi acara masak-memasak a la anak kost tak boleh luput dari jadwal.

Bilal, keponakan Gigi, kelihatan begitu sumringah tiap kali bahan dan bumbu mulai disiapkan. Asisten chef yang satu ini adalah ‘bumbu’ yang paling sedap. Masakan kurang sip kalau sebelum kompor dinyalakan, Bilal tak menyebutkan komposisi yang digunakan satu-persatu. Komplit dengan ukurannya.

“Om Rayya, bikinnya pakai topping pakai keju dong. Istimewa nih… Tadi habis main Bilal sempatin beli keju di warung perempatan”, kata Bilal bersemangat.

“Masa mitiaw goreng pake topping keju? Eh, kayanya jagoan kita baru bikin gol deh. Kelasmu habis menang, Bil?” tanya saya.

“Haha… Om Rayya ini… Sesekali bikin menu yang beda kan halal, Om. Kelas Bilal ngga menang sih… Kakak-kakak kelas lima itu badannya lebih gede dari teman-teman Bilal. Kalah tipis, 2-1 untuk mereka.”

“Yang bikin skor 1 itu kamu?”

“Bukan. Itu gol Ika.”

“Lah, kok kamu kelihatan senang begitu?”

“Coba Om bayangin deh. Biasanya kalau teman-teman sedang tanding, pelatih menyuruh Bilal untuk memimpin doa di barisan penonton. Atau sesekali boleh bersorak dan tepuk tangan di bangku cadangan. Nah, tadi sore itu Om, pak pelatih menyuruh Bilal berdoa dan berteriak semangat di belakang jaring Fafa, kiper kita! Hebat kan!”

Ah, Bilal kecil…

“Oia Om, nanti jangan lupa dikasih bawang goreng juga ya. Pliss… Meski kelihatan gosong, tanpa bawang goreng mitiaw ngga ada istimewanya. Semua masakan juga gitu, tak ada bawang goreng, tak ada cita rasa!”

11 Responses to “Anak Bawang”

  1. Prince says:

    PERTAMAX!!!!
    Akakakakakakakkakaka.
    Wah mas Rayya dah pindah rumah ya.
    Saiki lumayan modal. Ga golek gratisan meneh.. ^^; lha?

    btw, tak kiro sodarane animestash.info
    Tiwas wes semangat meh download.

    ya wes. Tak melanjutkan hidup sek.
    Ojo dadi anak bawang terus. Jadilah bapaknya! haha.
    Semangat!

    rayya:
    Ah kau Prince, ini blog kecil. Bukan tempat kau bisa dapat itu. Terimakasih sudah jadi yang pertama ;) Lanjutkan!

  2. malam……
    wah blue belum bisa menyuikai lagunya hehehe.
    pa cabar
    salam hangat selalu

    rayya:
    Malam blue… Tak pikir hilang beneran. Akhirnya kau muncul juga :idea:

  3. wi3nd says:

    rayyaaaaaaa.. welcome back yaaaa *hu9z..dipentun9 rayya,bukan muhrim nen9 :mrgreen:

    aiih rumah baru,con9rats ya d9 rumah baruna,semo9a makin seman9ad blo9in9nya :)

    uda selse skripsinya?alhamdulilah…

    nda papa jadi anak bawan9,nanti bakalan jadi anak emas ju9a,tunjukkin aja klu rayya itu mampu,dont be so sad ya rayya,ceman9aaaddd..!! hehe

    rayya:
    wi3333333nd….surprised!! Alhamdulillah sudah kelar, berkat doamu ju9a itu ;) . Makasih ya, ini RSS alias rumah san9at sederhana. Masih perlu banyak belajar dari anak emas di harumhutan. Ayyyoo seman9at!

  4. mahardhika says:

    sempet kaget awalnya…ko’ namaku disebut2 yach (GR) eh taunya nama tim hehehe….. :)

    senang bisa berkunjung kesini kembali….^^

    rayya:
    Haha…GR masih halal kok Mba. Bikin Tim Mahardhika Dewi aja bagaimana? :twisted:

  5. achoey says:

    Wah, rumahnya baru
    selamat ya

    Tak semua anak bawang mengecewakan kan
    Dan kali ini, anak bawangnya hebat

    hehehe

    Semangat berkarya!

    rayya:
    Baru dan masih kosong. Perlu belajar banyak biar bisa ‘berisi’ seperti rumah Aa’ yang indah.

  6. nisa says:

    alhamdulillah… bisa mampir jua akhirnya,, >_< asiikk!! rumah baruuu... *duduk-duduk di kebun belakang, nunggu kiriman mitiaw pake bawang goreng*

    hihii... moga makin semangat ngeblog dan dimudahkan segala urusannya.. ^^amin..

    rayya:
    Amin…
    Oke! Satu porsi mitiaw pake bawang goreng = sepuluh obor semangat. Sangat setuju :lol: !

  7. gyahaha…
    smangad, lah mas!

    selamat ya, atas rumah barunya…
    kapan nih bancaan e? tumpengan nasi kuning gittuuu…
    slametan rumah baruu ;)

    rayya:
    Akhirnya….Dirimu sudah datang ke sini, ya mesti semangat laa.. exclaim
    Sugeng rawuh, ini bancaan e tak taruh di teras belakang. Monggo Mas. Silakan dicicipi..

  8. mas rayya.. ayo sukseskan kampanye safe motherhood di hari ibu tahun ini, mas!
    silakan cek blog saya ;)

    rayya:
    Insyaallah. Siaaaaaaap! Next post, Om. Trimakasih ya!!! ;)

  9. nakjaDimande says:

    owh, untung bundo cukup hati-hati.. Rayya yang ini seorang pemuda, soale putri bundo Rayya juga namanya. Yang pasti Rayya sama sekali bukan anak bawang, ga pernah ke dapur kaaannn..? :D

    rayya:
    Eia, Rayya yang ini laki-laki. Ke dapurnya kalo ‘persami’ itu Bundo. Nebeng di rumah orang pula. Maklum, kaum mudikiawan :mrgreen: Berarti aku punya duplikat? Putri??? Doh!!

  10. cantigi says:

    subuh di ranca upas makin dingin bro, hehehee… eh tp bener itu, tanpa bawang, masakan berasa aneh.. :mrgreen:

  11. freesmsc says:

    berkunjung n dimohon kunjungan baliknya makasih

Leave a Reply