Explore. Dream. Discover.

Memoar

memoar || rayyahidayat

Kami adalah dua bersaudara dengan usiaku lebih muda empat tahun darinya. Bapakku adalah seorang juru foto amatir di sekolah beliau. Sewaktu kecil, tanpa sengaja aku memecahkan lampu blitz kamera yang bapak pinjam dari sekolah. Ketika bapak bertanya siapa yang menjatuhkan lampu blitz itu, aku ketakutan, dan tidak mengaku. Sebelum bapak lebih marah lagi, kakak mengaku bahwa ia yang menjatuhkannya. Esok harinya, kakak tak boleh bermain selama dua hari keluar rumah. Aku merasa begitu bersalah padanya. Tapi aku hanya bisa menangis sendirian.

Tahun terakhir di tingkat SD, setiap siswa harus mengikuti latihan EBTANAS. Pada pelajaran Matematika, nilaiku hanya 48. Nilai ini akan membuat raporku berwarna merah, dan bapak ibu kami tentu akan sangat kecewa. Kakak membesarkan hatiku. Dengan wajahnya yang teduh ia berkata, “Jangan bersedih, Ray. Kamu hebat! Dulu Kakak cuma dapat nilai 30 untuk Matematika.” Hari-hari berikutnya, kakak yang menjadi guruku untuk semua mata pelajaran, terutama Matematika. Ia mengajariku berhitung. Mendalami konsep-konsep dasar ilmu pasti.

Hari itu adalah hari pertama aku masuk SMP. Kakak mengantarku ke tepi jalan untuk mencari bus tujuan ke kota di mana sekolah baruku terletak. Ini adalah kali pertama bagi seorang bocah kecil ke pusat kota seorang diri. Takut adiknya tak cukup ongkos untuk pulang, kakak memberikan separuh uang sakunya untukku. Lima ratus rupiah jumlahnya.

Minggu pertama merupakan masa orientasi bagi murid-murid baru. Waktu itu namanya masih P4. Ketika masa orientasi siswa pungkas, seluruh siswa wajib mengikuti kemah kepanduan yang syarat kegiatan fisik. Kondisi yang belum fit setelah opname, nampaknya tidak memunginkanku untuk mengikuti kegiatan tersebut. Alhasil, pihak sekolah memanggil orang tuaku dengan alasan tindakan indisipliner yang aku lakukan. Dan adalah kakak yang memberikan penjelasan kepada kepala sekolah pada siang berikutnya. Ia ijin pulang lebih awal.

Satu tahun beranjak, aku kehilangan uang SPP untuk bulan November (atau Desember –kalau tidak salah). Uang sakuku tak bakal cukup untuk mengganti sebanyak itu. Meminta lagi kepada bapak ibu pun tak akan berani. Kakak memecah celengan jagonya dan melunasi SPP-ku bulan itu juga. Padahal, uang yang ia kumpulkan itu akan ia belikan baju muslim yang sedang digemari orang-orang seumurnya.

Tamat SMA kakak diterima di universitas negeri melalui jalur PMDK, mengambil jurusan Pendidikan Fisika. Yang aku tahu, jauh-jauh hari sebelum itu kakak sangat berminat masuk jurusan kehutanan perguruan tinggi tertua di negeri ini. Namun urung. Belakangan aku baru paham bahwa ia sengaja “mengalah” agar sahabat sebangkunya bisa masuk jurusan yang sangat ia minati tersebut. Dan ternyata memang berhasil. Waktu itu aku baru naik kelas 3 SMP.

Komunikasi kami sempat terhambat. Kakak tak sering pulang, sedang telepon seluler belum menjamur seperti sekarang. Harganya terlalu tinggi bagi kami. Satu-satunya jalan yang mudah dan bisa menghubungkan kami yaitu melalui telepon umum tunggu. Tiap Sabtu sore kakak meneleponku –dan bapak ibu tentunya. Maka, sebelum telepon berdering, bisa dipastikan kami sudah duduk manis di sebelah meja telepon tetangga kami. Ya, kami nunut terima telepon melalui nomor tetangga kami yang luar biasa baiknya. Waktu itu aku kelas 3 SMP.

Awal-awal masuk SMA merupakan masa transisi untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Aku berhasil masuk SMA kabupaten. Sebagian besar temanku adalah orang-orang yang punya. Sering aku iri ketika melihat mereka bisa ke sekolah membawa sepeda motor. Sementara uang saku dari bapak hanya cukup untuk ongkos angkot pulang dan pergi. Semangat belajarku berimbas menurun. Melihat keadaanku seperti ini, kakak meyakinkanku, “Ray, masuk SMA kabupaten itu tak mudah. Kakak berjanji untuk mencari sambilan. Supaya kamu bisa punya motor!”

Tahun ke tiga kakak kuliah, aku duduk di kelas dua SMA. Memilih bergabung sebagai anggota PMR, menuntut banyak pengorbanan waktu. Lebih tepatnya tanggung jawab moral. Tiap kali kami menghadapi lomba, jauh-jauh hari kami harus mempersiapkan diri. Pulang sekolah, bahkan pada hari libur, kami latihan bersama. Kami bahkan sering menginap di markas. Bapak dan ibu kurang setuju dengan hal ini. Sebab sebagian waktuku lebih banyak untuk ekskul, daripada belajar akademik atau berkumpul bersama mereka. Namun kakak meyakinkanku untuk terus berusaha melakukan yang tebaik. Berkat doa mereka –dan kerja sama tim yang luar biasa semangatnya– beberapa kompetisi berhasil kami juarai.

Aku menyusul kakak kuliah di tempat yang sama, pada jurusan yang berbeda. Aku masih bisa mengingatnya dengan baik. Kala itu adalah Ramadhan. Pengalaman puasa di perantauan untuk pertama kali. Suatu sore yang hujan, teman kostku bilang, “Ray, ada tukang sayur di depan mau ketemu kamu.” Tukang sayur? Baru setelah aku buka pintu depan, ternyata ia adalah kakakku. Dengan pakaian basah dan belepotan tanah merah, ia hantarkan semangkuk sayur dan nasi yang ia masak sendiri. “Buat buka puasa, Dik. Biar kamu ngga usah ke mana-mana”, katanya. “Tapi kenapa kakak bilangnya tukang sayur?” jawabku. “Ah, kau ini! Bagaimana mereka berkomentar kalau kamu yang anak baru ternyata punya kakak yang tampangnya belepotan gini?”

April tahun berikutnya, kakak lulus dengan predikat lulusan terbaik tingkat fakultas. Aku tak lagi kost, namun ikut bibi yang rumahnya setengah jam perjalanan dari kampus. Kakak kemudian membelikanku motor. Kuliah di jurusan ini ternyata tak memberikan kenyamanan bagiku meski itu adalah pilihanku sendiri. Aku jadi jarang ikut kajian, sekedar berbagi dengan sahabat dan guru, tak bisa lebih dekat dengan Allah. Dengan berat hati, kakak mendukung keputusanku untuk berhenti kuliah pada semester ke tiga. Menurutnya, daripada diteruskan hasilnya tak akan maksimal.

Keputusan berhenti kuliah itu sudah kami pertimbangkan masak-masak. Kadang aku menyesal, sedang di sisi lain aku bersyukur untuk kesalahan besar yang sudah aku lakukan. Yang aku pikirkan hanyalan betapa kecewanya kakak, ibu, bapak, dan keluarga besarku. Tentang berapa banyak biaya yang mereka keluarkan untukku; tentang waktuku selama dua tahun yang terbuang dengan percuma… Benar-benar sulit untuk mengikhlaskannya.

Minggu-minggu berikutnya, aku seperti orang hilang yang tak punya pendirian. Bingung entah apa yang harus diperbuat. Hingga akhirnya, kakak meyakinkanku sepenuh hati bahwa aku harus kembali kuliah lagi semester berikutnya. Bukan untuk mencari gelar, tapi agar menjadi orang berilmu yang Allah tinggikan derajatnya di antara orang yang beriman. Dan hanya karena pertolongan Allah, akhirnya aku kembali kuliah pada tempat dan jurusan yang berbeda. Kakak tak membolehkanku bekerja sambilan, dengan maksud agar aku lebih fokus belajar dan mengenal diin dengan benar. Tentang biaya, kakak menopangnya.

Hari-hariku kini berbeda dari sebelumnya. Suasana, kegiatan, lingkungan, semua baru. Dan seperti saran kakak, niatkan semua itu dengan ibadah. Alhamdulillah, Allah masih memberiku kesempatan padaku, meski tak berhasil menjadi lulusan terbaik. “Lulusan terbaik itu tak hanya dilihat dari tingginya nilai yang diperoleh. Kamu adalah lulusan terbaik, bagi kakak dan bagi dirimu sendiri”, ujar kakak.

Kakak tetaplah kakak. Ia bukannya melarangku bertanya tentang hal ini. Tapi tiap kali bertanya, kakak hanya menjawabnya dengan senyum, bungkam, dan sudut-sudut matanya yang mengalirkan butiran-butiran kristal. Aku putuskan untuk tak bertanya lagi. Sampai pada akhirnya aku memberanikan diri untuk mengulangi bertanya. “…dan kenapa Mba seperti hidup untuk membesarkan aku dan hatiku? Kenapa Mba, tak sesekali hidup untuk diri Mba sendiri?!”

Dan kali ini, kakak menjawabnya dengan senyum penuh –tanpa menangis– di tempat favorit kami!

“Rayya…

Tentang semua ini, Mba hanya ingat satu kejadian yang bahkan mungkin kamu sudah lupa. Pagi itu hari Senin, saat kita berangkat sekolah. Ketika menyeberang saluran irigasi, tas kakak terjatuh. Dengan susah payah kau ambilkan tas kakak itu sebelum hanyut lebih dalam. Kau tahu Rayya? Karena keberanianmu itu, kakak tetap bisa membayar ujian kenaikan kelas. Di tas itu juga ada topi merah putih milik Mba. Kakak mana yang tega melihat adiknya basah kuyup di barisan paling depan, ketika upacara tiap Senin, sementara sang kakak menjadi petugas pengibar bendera? Karena alasan itu, Rayya… Karena alasan itu…”

23 Responses to “Memoar”

  1. nisa says:

    jadi ingat nisa ma kakak…

    dulu waktu kelas 1 SD nisa suka lupa gak nata buku… pagi-pagi mau berangkat jadi buru-buru, takut dimarahi ibu… eh, ternyata udah ditatain ma kakak… ^^

    terus waktu belajar juga, kami saling melindungi kalau ada yang ketiduran, takut dimarahi ibu…

    **walahh nisa kok ikut2 cerita… jadi mellow… ^^

    salam buat mbaknya mas rayya ^^

    rayya:
    Like brother like father; like sister like mother. Betapa beruntungnya kita dikaruniai kakak seperti itu ya Nis… :-) Bukan seperti Qabil dan Habil.

  2. dinda27 says:

    Kisah yang menyentuh hati. Salam tuk mbak’nya ya.
    Bersyukurlah memiliki kakak yang demikian kasih pada adiknya.
    Terimakasih sudah berbagi, juga atas kunjungannya.
    Salam hangat.

    rayya:
    InsyaAllah saya sampaikan salamnya Mba. Senang Mba Dinda mau main kemari. Salam.

  3. nakjaDimande says:

    Kakak yang manis untuk seorang adik yang baik :)

    rayya:
    Adik yang masih harus belajar menjadi orang baik :)

  4. wi3nd says:

    *** tears..

    my best re9rads for ur LoveLy sister rayya..
    b9itu tuLus pen9orbanannya…* selalu merindukan kakak perempuan diriku :)

    rayya:
    Wi3nd pun akan melakukan hal yang sama jika dalam posisi seperti kakak. Kamu jadi kakak baruku aja ya :idea:

    • wi3nd says:

      hehehe.iyah..bole :)

      *hasyeeek punya ade sebaik rayya *senan9nya..
      aku ju9a nda punya ade :)

      baru nyadar klu warnanya brubah jadi biru ju9a …

      ini lebih sejuk rayya..*bukan karna aku suka biru yah heheh

  5. bri says:

    salam pagii smile morning^^
    enaknya punya kakak perempuan
    pasti halaman bersih dan all room wangi wangian
    enaknya punya abang laki laki
    ada yang ngejagain kalau ada apapa
    pengorbananya begitu tulus….^^
    enaknya dan bahagianya kalau bisa slalu bersama

  6. terharu membacanya. andaikan saya punya kakak, saya ingin kakak yang seperti itu. sudah sepantasnya memberikan yang terbaik untuk si kakak atas segala upayanya.

    Cara Membuat Web

  7. Didien® says:

    kisah ini sangat mengharukan..semoga mbaknya tetap menjadi panutan adiknya…amin

    salam, ^_^

  8. Caride™ says:

    saya juga punya abang, alhamdulillah dia sangat mengerti dg keadaan adiknya…
    salam ya buat mbaknya

  9. d-Gadget™ says:

    kakaknya baik banget…pasti bahagia ya punya kakak yg baik?

  10. prince says:

    T_T
    Jadi inget kakak (laki laki) aku.
    Walaupun sepertinya suka ganggu, sok menang sendiri, usil bukan main (Serius!!!!), tapi kalo dipikir pikir mungkin lebih banyak jadi kakak yang pengertian seperti ceritamu tadi.
    Waa….

  11. benarbenar kaka yang baik y
    salam hnagat selalu

  12. bri says:

    rayya bri ngucapin met tahun baru islam 1431 hijriah
    salam^^

  13. kapan posting lagi nich mas? ditunggu lho..tulisannya bagus….
    salam kenal dalam persahabatan

  14. p cabar
    semangat y
    salam hangat selalu

  15. wi3nd says:

    [ OoT]
    rayya,..

    selamat tahun baru hijriah dan tahun baru masehi..

    semo9a Allah selalu mraHmaTi dan merIdhoi lan9kah kita.. amien..

  16. hiks… jadi terharu…

  17. rayya says:

    wahh.. senangnya punya seorang kakak yang selalu care sama adiknya… ^^

    *ngiri mode:on*

  18. sauskecap says:

    ceritanya sangat menyentuh, ternyata dari perbuatan baik yang tidak kita sadari bisa berbuah kecintaan kakak terhadap adiknya…

  19. daunberserakan says:

    *mampir kemari :D * ayo posting lagi.. hamasah! :D

  20. muhamaze says:

    rayya gimana kabarnya… gak pernah apdet… :D

  21. Adam says:

    Very nice i realy like your blog you are doing very hard work bookmarked******

  22. specifically the last part :) I care for such information much. I was seeking this particular information for a very Excellent post. I was checking constantly this blog and I’m impressed! Extremely useful information long time. Thank you and good luck.
    estate agents in cottingham

Leave a Reply