Explore. Dream. Discover.

Doa

Hari hampir di batas sepenggalah tiang. Di atas lapak, tampak masih banyak kedelai berbungkus daun yang semakin menjamur. Kinerja ragi ini benar-benar membuat tempe kian matang saja. Bahkan sampai mengubah warna pembungkusnya menguning dan kecoklatan. Tempe ini memang seharusnya laku kemarin. Kalau hari ini tidak ada yang membeli, jadilah ia tempe bongkrek. Bongkrek berbungkus daun? Mana ada yang tertarik. Sebab biasanya tempe macam ini hanya menarik pembeli jika membusuk di dalam pelepah pisang. Pun kalau harus pulang lagi tanpa dompet terisi, berarti tak ada kedelai yang bisa dibeli. Ya, ini sudah yang ke-dua, Harqi pulang dengan tas masih lumayan penuh. Tapi masih ada sekejap masa sampai jelang ashar. Semoga.

Ya Allah, jika ini baik bagimu…

Meski banyak yang berlalu dan menengok, tempe ini masih terjejer rapi dalam shaf berformasi. Benar saja! Bukan hanya daun pisangnya yang telah berubah warna, tapi aromanya sudah mulai menyengat. Transformasi bongkrek sudah tercium.

Baiklah. Sudah jam tiga,sebaiknya  aku pulang saja. Bongkrek ini masih bisa jadi pakan ikan. Insya Allah, masih ada rejeki dari arah lain.

***

Sahabat,

Mungkin kita pernah tersudut dalam kondisi yang sulit. Entah secara fisik, finansial, atau dalam keseharian. Kala seperti ini, sering kali melemahkan semangat dan tersisih dari jalan kebaikan. Di sisi lain, ia adalah momentum tempat kita mengumpulkan seluruh energi ruhaniat: berdoa. Sebab, kita semua perlu doa.

Malam di tengah Badar yang dahsyat, sebagian sahabat terlelap. Sementara Muhammad SAW tak bisa terpejam. Di samping sebuah pohon ia shalat. Dalam sujud-sujud yang khusyu’, ia berdoa: “Yaa hayyu yaa Qayyuuum… (Wahai Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri)”. Di tengah kegentingan itu, berulangkali ia mengulangi doanya, memohon kemenangan untuk kaum beriman (Al Bidayah wa An Nihayah, 5/82).

Dalam sejarah lain, seorang pejuang Islam —Nu’man bin Maqran—kala itu memimpin peperangan melawan Persia. Sebab tentara Persia berlindung di dalam benteng kokoh yang dikelilingi parit, ia perlu strategi untuk memancing serdadu musuh keluar. Mula-mula tentara Islam pura-pura mundur, sampai ketika tentara Persia keluar dari parit, barulah mereka menyerang balik. Kepada pasukannya ia berkata:  “Nanti akulah yang akan meneriakkan takbir tiga kali. Jika kalian mendengar teriakan takbir ketiga, berarti saat itulah kalian mulai peperangan.” Setelah itu, Nu ’man pergi ke salah satu tempat dan berdoa kepada Allah swt dengan mengatakan, “Ya Allah, muliakanlah agamamu, menangkanlah hamba-Mu. Ya Allah aku memohon kepada-Mu agar mataku sejuk dengan kemenangan yang menjadikan Islam mulia, dan matikanlah aku dalam keadaan syahid.” Orang-orang yang mendengar doa Nu’man menangis. Mereka sama-sama larut dalam munajat dan doa dengan penuh khusyu’ dan tunduk.

Allah Maha Mendengar. Kemenangan untuk kaum Islam. Dan Nu ’man bin Maqran tercatat sebagai prajurit pertama yang syahid di medan perang ketika itu. (Al Bidayah wa An Nihayah, 7/89).

Sahabat,

Sejenak mari renungkan saat-saat kita menghadapi kesulitan. Ketika badan-badan yang tegap menjadi layu tiba-tiba. Ketika senyum indah menjadi tercerai. Ingatlah saat-saat hempasan mengguncang kita. Merenggut orang-orang yang kita cintai, atau meluluhkan hasil kerja keras kebutuhan hidup yang mungkin bertahun-tahun kita gali.

Setiap kita memerlukan doa, Nabi sekalipun. Seperti Ibrahim ketika harus meninggalkan Siti Hajar dan Ismail kecil; seperti Zakaria yang sudah renta dan menginginkan seorang penerus, dengan sang istri tak bisa mengandung; seperti Ya’qub yang kehilangan Yusuf; seperti Musa yang ketika itu dikejar Fir’aun.

Sebab kita tidak bisa memastikan tentang apa yang akan kita temui, setiap saat kita harus bergantung kepada Allah. Kita tidak pernah tahu apa kesudahan dari seluruh langkah-langkah hidup kita, bahkan sekedipan mata kemudian. Karenanya, di tengah hirup pikuk hidup yang keras, sejujurnya ada jenak-jenak sesaat, kala ketulusan hati kita bicara, tentang kebergantungan kita kepada Allah Yang Maha Perkasa. Sahabat, mari berdoa. Bismillah.

***

Nyaris ketika hampir selesai mengemasi lapak, seorang lelaki membeli habis tempe bongkrek yang dijual Harqi. Subhanallah, beliau adalah seorang peneliti yang sedang menyelesaikan pendidikan post-doctoral di Alexandria dan Hamburg. Bidang kajian yang yang dipelajari memerlukan banyak objek kacang-kacangan yang berjamur, termasuk tempe bongkrek buatan Harqi. Selama beberapa bulan, Harqi “dikontrak” di Alexandria untuk membuat tempe dari jagung dan tempe bongkrek yang diperlukan selama riset.

Seperti yang diceritakan Abdurrahman Harqi Hidayat: sahabat, guru, sekaligus ‘rival’. Ianya ternyata sudah beberapa kali tadarus di Nabawi, berkeliling Madinah, bahkan umroh. Semuanya ‘percuma’, alias tak berbayar! Doamu mungkin sederhana, tapi penuh keyakinan: “Ya Allah, jika ini baik bagimu…”

#ah, saya benar² jealous :P

 

Hari hampir di batas sepenggalah tiang. Di atas lapak, tampak masih banyak kedelai berbungkus daun yang semakin menjamur. Kinerja ragi ini benar-benar membuat tempe kian matang saja. Bahkan sampai mengubah warna pembungkusnya menguning dan kecoklatan. Tempe ini memang seharusnya laku kemarin. Kalau hari ini tidak ada yang membeli, jadilah ia tempe bongkrek. Bongkrek berbungkus daun? Mana ada yang tertarik. Sebab biasanya tempe macam ini hanya menarik pembeli jika membusuk di dalam pelepah pisang. Pun kalau harus pulang lagi tanpa dompet terisi, berarti tak ada kedelai yang bisa dibeli. Ya, ini sudah yang ke-dua, Harqi pulang dengan tas masih lumayan penuh. Tapi masih ada sekejap masa sampai jelang ashar. Semoga.

Ya Allah, jika ini baik bagimu…

Meski banyak yang berlalu dan menengok, tempe ini masih terjejer rapi dalam shaf berformasi. Benar saja! Bukan hanya daun pisangnya yang telah berubah warna, tapi aromanya sudah mulai menyengat. Transformasi bongkrek sudah tercium.

Baiklah. Sudah jam tiga,sebaiknya aku pulang saja. Bongkrek ini masih bisa jadi pakan ikan. Insya Allah, masih ada rejeki dari arah lain.

***

Sahabat,

Mungkin kita pernah tersudut dalam kondisi yang sulit. Entah secara fisik, finansial, atau dalam keseharian. Kala seperti ini, sering kali melemahkan semangat dan tersisih dari jalan kebaikan. Di sisi lain, ia adalah momentum tempat kita mengumpulkan seluruh energi ruhaniat: berdoa. Sebab, kita semua perlu doa.

Malam di tengah Badar yang dahsyat, sebagian sahabat terlelap. Sementara Muhammad SAW tak bisa terpejam. Di samping sebuah pohon ia shalat. Dalam sujud-sujud yang khusyu’, ia berdoa: “Yaa hayyu yaa Qayyuuum… (Wahai Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri). Di tengah kegentingan itu, berulangkali ia mengulangi doanya, memohon kemenangan untuk kaum beriman (Al Bidayah wa An Nihayah, 5/82).

Dalam sejarah lain, seorang pejuang Islam —Nu’man bin Maqran—kala itu memimpin peperangan melawan Persia. Sebab tentara Persia berlindung di dalam benteng kokoh yang dikelilingi parit, ia perlu strategi untuk memancing serdadu musuh keluar. Mula-mula tentara Islam pura-pura mundur, sampai ketika tentara Persia keluar dari parit, barulah mereka menyerang balik. Kepada pasukannya ia berkata: “Nanti akulah yang akan meneriakkan takbir tiga kali. Jika kalian mendengar teriakan takbir ketiga, berarti saat itulah kalian mulai peperangan.” Setelah itu, Nu ’man pergi ke salah satu tempat dan berdoa kepada Allah swt dengan mengatakan, “Ya Allah, muliakanlah agamamu, menangkanlah hamba-Mu. Ya Allah aku memohon kepada-Mu agar mataku sejuk dengan kemenangan yang menjadikan Islam mulia, dan matikanlah aku dalam keadaan syahid.” Orang-orang yang mendengar doa Nu’man menangis. Mereka sama-sama larut dalam munajat dan doa dengan penuh khusyu’ dan tunduk.

Allah Maha Mendengar. Kemenangan untuk kaum Islam. Dan Nu ’man bin Maqran tercatat sebagai prajurit pertama yang syahid di medan perang ketika itu. (Al Bidayah wa An Nihayah, 7/89).

Sahabat,

Sejenak mari renungkan saat-saat kita menghadapi kesulitan. Ketika badan-badan yang tegap menjadi layu tiba-tiba. Ketika senyum indah menjadi tercerai. Ingatlah saat-saat hempasan mengguncang kita. Merenggut orang-orang yang kita cintai, atau meluluhkan hasil kerja keras kebutuhan hidup yang mungkin bertahun-tahun kita gali.

Setiap kita memerlukan doa, Nabi sekalipun. Seperti Ibrahim ketika harus meninggalkan Siti Hajar dan Ismail kecil; seperti Zakaria yang sudah renta dan menginginkan seorang penerus, dengan sang istri tak bisa mengandung; seperti Ya’qub yang kehilangan Yusuf; seperti Musa yang ketika itu dikejar Fir’aun.

Sebab kita tidak bisa memastikan tentang apa yang akan kita temui, setiap saat kita harus bergantung kepada Allah. Kita tidak pernah tahu apa kesudahan dari seluruh langkah-langkah hidup kita, bahkan sekedipan mata kemudian. Karenanya, di tengah hirup pikuk hidup yang keras, sejujurnya ada jenak-jenak sesaat, kala ketulusan hati kita bicara, tentang kebergantungan kita kepada Allah Yang Maha Perkasa. Sahabat, mari berdoa. Bismillah.

***

Nyaris ketika hampir selesai mengemasi lapak, seorang lelaki membeli habis tempe bongkrek yang dijual Harqi. Setelah memastikan bahwa tempe bongkrek itu buatan Harqi sendiri, lelaki tersebut mengajaknya pulang. Lantas, pembeli tempe bongkrek itu memperkenalkan diri kepada Harqi dan keluarganya. Ia adalah seorang peneliti yang sedang menyelesaikan pendidikan post-doctoral di Alexandria dan Hamburg. Bidang kajian yang yang dipelajari memerlukan banyak objek kacang-kacangan yang berjamur, termasuk tempe bongkrek buatan Harqi. Untuk beberapa bulan di Alexandria, Harqi “dikontrak” menyuplai objek yang diperlukan untuk riset.

Seperti yang diceritakan Abdurrahman Harqi Hidayat: sahabat, guru, sekaligus ‘rival’. Bukan pembuat tempe bongkrek kacangan, sebab ianya ternyata sudah sempat bermain di sungai Nil, berkeliling Madinah, bahkan umroh. Semuanya ‘percuma’, alias tak berbayar! Doamu mungkin sederhana, tapi penuh keyakinan: “Ya Allah, jika ini baik bagimu…”

#ah, saya benar² jealous :P

5 Responses to “Doa”

  1. wi3nd says:

    doa merupakan sarana pendekatan yang hakiki denganNYA,dan hanya doa yang mampu menguatkan segalanya.

    hemm..kisah diatas membuatku merunduk sejenak untuk yakin bahwa DIA tahu yang terbaik untuknya **hufff..ampuni ya Rabb..

    apa kabar my lil bro rayya?
    kangen igh ama adik daku yang ini,lama tak bersilaturahim lewat blog,hingga ramadhan hampir menjelang kembali…

    rayya:
    DOA, “sentuhan kecil” yang mebuat perubahan besar.

    Alhamdulillah aku, Wi3nd.
    Nampaknya banyak yang aku lewatkan di harumhutan. Sangat banyak. Semoga bisa silaturrahim lagi ke rumahmu.
    #tapi gimana cara masuknya? :-/

  2. ketikanjari says:

    cerita nyata ya? kirain cerpen kamu awalnya :D
    doa memang senjatanya orang2 mukmin

    hmmm meski sederhana namun penuh keyakinan, sungguh bermakna postinganmu kawan :)

    rayya:
    Terima kasih. Semoga kita tak lupa berdoa untuk negeri tempat kita dilahirkan.

  3. nisa says:

    Karena tolak ukur terhadap apa-apa yang terbaik bukan berasal dari kita, begitu bukan, Mas Rayya?

    Bismillah,, mari kerahkan segenap energi ruhiyat, berdoa. Never give up.

    rayya:
    Setuju, Nis. …dan Allah Maha Penggenggam Hati. Bismillah :)

  4. mamung says:

    apa kabar mas?
    maaf baru berkunjung lagi nih…

    mari saling mendoakan dan menguatkan… :)

  5. Syahru says:

    Doa-doa yg dgantungkan d.langit d.dengarkan oleh sluruh makhluj. Apalagi yg menggantungknny adlh org yg berpuasa sperti skrg ini. Nice post mas ^^

Leave a Reply