Ia adalah Mbah Suneri. Perempuan usia hampir delapanpuluhan itu sudah siap menyambut hari. Jam setengah empat pagi. Dengan pakaiannya yang berlapis-lapis, ia berjalan kaki menuju pasar. Melintasi kampung-kampung, yang sebagian besar warganya masih terlelap dalam kehangatan selimut dan tidurnya yang panjang atas pelampiasan kelelahan kemarin. Kecuali orang-orang yang sudah terjaga untuk menyendiri bersama Tuhannya.
Mbah Suneri Jualan Lagi
Rooftop
Maka pulang dalam keadaan kering –menurutnya– adalah sebuah prestasi yang keren. Sering ia menggambarkan bahwa perjalanannya ketika langit mendung, seolah-olah ia akan berangkat perang. Warna awan yang pekat hitamnya, melukiskan medan pertempuran yang luluh lantak karena peluru meriam yang berdentuman menghujam tanah. Tapi perumpamaan yang ini masih lumayan normal, daripada hayalan tinkgat tingginya yang lain. Untuk mengiaskan kondisi yang sama, ia sering merasa seperti masuk ke pusat pusaran badai tornado; angin topan; –atau apalah ia bilang— dalam film Twister. Ahh…berlebihan!. Kadang fantasinya jauh di luar batas. Penyakit gila #29!!!
Catatan: Untuk Rayya
Dan hari Senin ini, waktunya kembali berjibaku dengan peluang dan kegagalan merubah nasib. Dalam perjalanan ke Semarang, aku teringat akan cerita kesedihan seorang kawan dekat. Sahabat yang sudah lama aku kenal. Dari tulisan yang ia sampaikan, nampak sekali hari-harinya tidak berwarna, selain gradasi warna hitam, putih, dan abu-abu. Dan semua itu, ia rangkai dalam sebuah cerita hati dalam sebuah email yang pernah ia kirimkan padaku.
Layakkah Aku Dicintai?
Waktu sudah menemukan ruasnya. Pergantian siang dan malam, tak hanya sekedar melambangkan hilangnya siang berganti malam. Sore, bagi sebagian orang adalah pertanda beralihnya konsentrasi perhatian dari kehidupan dunia ke ukhrawi yang kekal. Pun begitu, malaikat malam mengawali tugasnya meneruskan shift malaikat subuh. Makhluk yang selalu taat kepada tuannya ini secara kontinu mencatat amal perbuatan manusia. Selama hari, selama usia.
Gang itu tak beda dengan gang-gang lain pada umumnya. Terdiri dari sederetan rumah nyaris tak bersela, kecuali pada perpotongan melintang sisinya dengan gang atau jalan lain. Dari sekian banyak rumah, ada satu kediaman yang agak berbeda dengan tetangganya. Meski secara fisik dan arsitektur, pengaruh tradisional masih lekat. Halaman rumah yang tak seberapa luas itu tak berpagar. Namun ada satu bagian yang unik dan berbeda. Pada bagian atas gapura yang terbuat dari rakitan bambu dan kayu, ada dua buah kendi bertuliskan “AIR MINUM GRATIS. SILAKAN AMBIL.” Kendi-kendi itu sengaja disediakan pemilik rumah untuk membasahi tenggorokan mereka yang kekeringan. Menurut cerita orang-orang di sekitar, kebiasaan ini sudah lama dilakukan.









Recent Comments