Explore. Dream. Discover.

Memoar

Sunday, December 13th, 2009
memoar || rayyahidayat

(more…)

Anak Bawang

Monday, November 30th, 2009

Anak Bawang

Meski sudah lewat tiga hari, rasa lelahnya masih sedikit terasa. Pertandingan melawan Tim Mahardhika Putra siang itu lumayan menguras energi. Kami dipaksa bermain sampai set terakhir, setelah pada set pembuka kami kalah 25-20. Beruntung, kami bisa meraih angka pada set kedua dan keempat. Itu artinya, kedudukan kini imbang, 2-2. Pada set penentu, Tim Mahardhika Putra menurunkan pemain dengan kekuatan penuh. Kami pun berusaha memaksimalkan kemampuan yang ada, untuk memberi perlawanan yang berarti. Berkat kerjasama tim, akhirnya kami terlebih dahulu menyentuh angka 25, dua poin di atas tim lawan.

Podium teratas berhasil kami duduki. Menjadi pemenang baru dan melengserkan sang juara bertahan. Meski piala bergilir dan tropi berhasil kami bawa pulang, ada sedikit perasaan kecewa dalam hati saya. Saya hanya dijadikan libero pada pertandingan final itu. Kemampuan bermain tiap anggota tim rata-rata hampir sama. Sedang saya diuntungkan dengan postur yang lebih tinggi beberapa centimeter dari tiga kompatriot yang turun pada kompetisi antarfakultas itu.

(more…)

Abnormalitas

Thursday, April 23rd, 2009
Sabtu, di antara libur pemilu kemarin, budhe saya datang ke rumah abah. Ia meminta saya mengantarkan beliau ke tempat kerjanya di pinggiran kota. Bangunan di Jalan Kemuning itu adalah Sekolah Dasar yang dikelola oleh sebuah yayasan nonprofit. Laiknya SD pada umumnya, bangunan tersebut memiliki jumlah ruangan yang terdiri dari beberapa kelas, kantor guru, UKS, kantin, kamar kecil, dan area bermain, yang mengelilingi sebuah kolam kecil di tengahnya. Yang membedakan, adalah siswa-siswinya. Mereka adalah anak-anak dengan kebutuhan khusus. Ya, bangunan itu adalah Sekolah Dasar Luar Biasa atau SDLB.

Budhe, adalah satu dari sekian banyak relawan pengajar. Sejak enam tahun yang lalu, SD swasta itu telah meluluskan puluhan muridnya. Hari itu, budhe mengajak saya masuk ke kelas enam. Saya disuruh duduk di bangku kosong pojok kanan (atas?). Siswa yang berjumlah sebelas hadir semua. Kebetulan, mata pelajaran saat itu adalah pengembangan diri. Mereka yang hadir diberi tugas untuk menulis tentang cita-cita yang ingin mereka raih.

(more…)

Layakkah Aku Dicintai?

Thursday, March 19th, 2009
Gang itu tidak begitu sempit. Meski tidak muat untuk papasan, mobil pribadi bisa melewatinya. Orang berlalu-lalang semakin ramai. Siang beranjak menua, waktunya orang-orang pulang dari bekerja. Akhir pekan nampaknya tidak mampu mengurangi kepenatan manusia untuk sejenak melepas lelah. Wajah-wajah yang nampak mewakili bermacam emosi yang tak terucapkan. Emosi mereka hanya dapat dibaca melalui polah dan gerak tubuh yang dinamis, kadang kaku, tidak luwes.


Waktu sudah menemukan ruasnya. Pergantian siang dan malam, tak hanya sekedar melambangkan hilangnya siang berganti malam. Sore, bagi sebagian orang adalah pertanda beralihnya konsentrasi perhatian dari kehidupan dunia ke ukhrawi yang kekal. Pun begitu, malaikat malam mengawali tugasnya meneruskan shift malaikat subuh. Makhluk yang selalu taat kepada tuannya ini secara kontinu mencatat amal perbuatan manusia. Selama hari, selama usia.


Gang itu tak beda dengan gang-gang lain pada umumnya. Terdiri dari sederetan rumah nyaris tak bersela, kecuali pada perpotongan melintang sisinya dengan gang atau jalan lain. Dari sekian banyak rumah, ada satu kediaman yang agak berbeda dengan tetangganya. Meski secara fisik dan arsitektur, pengaruh tradisional masih lekat. Halaman rumah yang tak seberapa luas itu tak berpagar. Namun ada satu bagian yang unik dan berbeda. Pada bagian atas gapura yang terbuat dari rakitan bambu dan kayu, ada dua buah kendi bertuliskan “AIR MINUM GRATIS. SILAKAN AMBIL.” Kendi-kendi itu sengaja disediakan pemilik rumah untuk membasahi tenggorokan mereka yang kekeringan. Menurut cerita orang-orang di sekitar, kebiasaan ini sudah lama dilakukan.

(more…)