Dan hari Senin ini, waktunya kembali berjibaku dengan peluang dan kegagalan merubah nasib. Dalam perjalanan ke Semarang, aku teringat akan cerita kesedihan seorang kawan dekat. Sahabat yang sudah lama aku kenal. Dari tulisan yang ia sampaikan, nampak sekali hari-harinya tidak berwarna, selain gradasi warna hitam, putih, dan abu-abu. Dan semua itu, ia rangkai dalam sebuah cerita hati dalam sebuah email yang pernah ia kirimkan padaku.
Catatan: Untuk Rayya
Monday, March 23rd, 2009“Segala sesuatu itu mempunyai penyerbukan. Kesedihan itu serbuk yang melahirkan amal shaleh. Tidak ada seseorang yang bersabar atas amal shaleh, kecuali dengan kesedihan” (Malik bin Dinar)
Penat yang hinggap selama beberapa minggu terakhir itu, agaknya sudah sedikit berkurang. Setelah sekian lama, akhirnya pulang juga. Aroma udara kampung halaman, terasa begitu tenang.









Recent Comments